Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

31 December 2011

The Cities of Light

Foto ini hasil jepretanku ketika jalan-jalan mengunjungi kota-kota tersebut di akhir tahun ini. Walaupun ga punya tripod, yang penting pede, blur sana-sini, tapi kan oke juga?? Untuk dokumentasi pribadi, kenang-kenangan.

Kalo kamu berkenan melihatnya, silahkan aja. Mau liat yang lebih bagus? Silahkan cari sendiri di google, atau motret aja sendiri ;)

Coba search city of light di google.
Ternyata banyak juga kota-kota yang mendapat julukan city of light.
Memang seru sih melihat-lihat lampu di malam hari, tapi tetap ingat ya: "Hemat Energi!" he..he...


29 December 2011

Taman Pelangi

Pekan lalu aku ke Jogja, walaupun cuma 3 hari, sempat juga jalan-jalan ke tempat rekreasi baru di Jogja, yaitu Taman Pelangi.
Taman Pelangi ini letaknya di pelataran Monumen Jogja Kembali (Monjali), ringroad utara Jogjakarta.

Di Taman Pelangi ini ada Taman Lampion, dimana kita bisa melihat berbagai bentuk lampion yang cantik-cantik.
Contohnya seperti di ilustrasi foto, lampion pelangi warna-warni di kegelapan malam (telah diedit pake photo illusion dan pic say)

Thanks to the darkness, therefore i can see the beauty of light ;)



22 October 2011

Meet The Bears

Last thursday, on 13th Oct 2011, I went to Sun Bear enclosure (KWPLH, Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup). It is located about 23 km from Balikpapan city.
This is my 2nd time visited KWPLH. when first time i visited KWPLH, i didn't know that The Bears there, have eating time, twice a day, at 9am and 3pm. so if we come in the wrong time, we can't see the Bears, because they usually go to the forest.

Lucky me! this time, i could see the Bears nearly closely, and i have a better camera to take some shoots :p


at KWPLH, there are also an exhibition where we can get information about sun bear, a playground for children, and Cat House where we can adopt cat.




Sun bear (helarctos malayanus eurispylus) is an endemic animal of Borneo island, and it is the mascot of Balikpapan city, Indonesia :))



Sun Bears have been protected in Indonesia since 1973.



Save the forest, save the sun bears! Would you?

22 June 2011

Bukit Bangkirai

Siapa yang pernah ke Bukit Bangkirai?

Mungkin malah ada yang belum pernah dengar namanya ya? letaknya dimana juga belum tau?
Gak apa-apa, banyak juga yang tinggal di daerah sekitarnya (Balikpapan, Samarinda, Kukar) yang belum pernah ke sana.

Bukit Bangkirai adalah salah satu tempat wisata unggulan di wilayah Kalimantan Timur. jalan masuk ke sana bisa lewat jalan Raya Balikpapan-Samarinda km 38, ke kiri, lalu masih masuk lagi sekitar 20/30km an, cukup jauh lah, apalagi jalanannya masih belum nyaman untuk dilewati (medannya yang naik turun belok-belok, jalan sempit, dan rusak, sebagian belum diaspal, belum ada penerangan jalan, dan tentu saja tak ku lihat ada tukang tambal ban :D).

Sabtu lalu aku berkesempatan ke sana, setelah sebelumnya cukup penasaran juga dengan Bukit Bangkirai, sampai pernah terpikir untuk naik motor ke sana hehe... :p
Beruntunglah ada sodara dateng dari Jogja, dan pengen banget ke sana, menyewa mobil lah kita, lalu ke sana rame-rame.

Setelah sampai di sana, suasananya cukup indah dan bersih, terlihat cukup terawat, dan ada kantinnya juga (jadi buat yang males bawa makanan, ga usah khawatir kelaperan, walopun pas dijalan lewat hutan, kayaknya sepi banget). sepertinya Bukit Bangkirai cukup banyak juga pengunjungnya. cukuplah untuk sebuah tempat wisata yang "hanya" menawarkan wisata Canopy Bridge (melewati 4 jembatan gantung dari pohon ke pohon, di atas ketinggian sekitar 30 meter dari tanah).

Mungkin ada juga wisata menjelajah hutan, mengenal jenis-jenis pohon, aku ga tau juga sih. tapi sebelum sampai ke Canopy Bridge, kita harus jalan kaki sejauh 300 meter, dan sepanjang jalan itu terlihat label yang bertuliskan nama-nama jenis pohon, dan ada petunjuk jalan juga, trek 1, trek 2, ... dst.
Cukup cape juga (jangan lupa bawa minum :p), sampe di canopy bridge, kita masih harus menaiki tangga (ga tau ada berapa jumlah anak tangga, lupa ga ngitungin).
Setelah itu saatnya melewati jembatan gantung. Silahkan!!!
*buat yang takut ketinggian, boleh nih sering-sering dateng ke sini, buat terapi ;))


Dan pemandangan indah menanti kita di atas pohon, dengan view yang berbeda-beda dari tiap pohon. Ada 4 jembatan dengan panjang berbeda yang menghubungkan 5 pohon dengan 2 pohon ada tangganya (pohon I dan IV). Jadi bila kita telah berhasil melewati 1 jembatan, setidaknya harus melewati 1 jembatan lagi supaya bisa turun.
a. Jembatan 1
Dari pohon I ke pohon II, cukup panjang jembatannya, dan ga ada tangga turun, harus kembali ke pohon I atau memberanikan diri melewati jembatan 2.
b. Jembatan 2
Dari pohon II ke pohon III, lebih pendek, tapi di pohon III ini juga ga ada tangga turun, kalo mau turun harus melewati Jembatan ke pohon IV, yang jaraknya kurang lebih sama dengan Jembatan 1
c. Jembatan 3
Dari pohon III ke pohon V
Mungkin inilah jembatan terpanjang, dan bila sudah sampai di pohon V, terpaksa harus kembali ke pohon III lalu melanjutkan ke pohon IV atau pohon I (Nah bayangin aja berapa jaraknya :p). Semakin panjang jembatannya semakin terasa juga goyangannya. Dan maafkan bila ku tak berani melewatinya hahahahah :D, numpang liat viewnya dari foto yang diambil suamiku (gambar kanan bawah).
d. Jembatan 4
Sayangnya aku juga ga melewati jembatan ini, aku turun dengan kembali ke pohon I, karena di pohon IV sudah ada banyak orang.


Perhatikan deh foto di atas (kanan bawah), kok masih ada aja sih orang yang suka coret-coret, sok mengukir nama, pamer udah pernah sampe disana. Norak deh!! ngerusak tauu!! *sebel*

*loh, setelah dipreview, tulisan peraturan menaiki canopy bridge ga keliatan hehe... upload lagi ahh :)
informasi penting

Buat yang merasa ga puas dengan foto-foto disini, atau ga jelas dengan cerita hasil tulisanku, silahkan datang sendiri ke Bukit Bangkirai (dan ajak-ajak aku ya?? :D)

04 April 2011

Menyusuri Mahakam

Judulnya Menyusuri Mahakam, tapi bukan berarti aku naik kapal sepanjang sungai mahakam loh, tapi aku mengunjungi kota-kota yang dilewati aliran sungai mahakam ini, yaitu Samarinda dan Tenggarong.
Kunjunganku ini adalah yang kedua dalam waktu setahun terakhir, yang pertama bersama adikku pada Mei 2010. kali ini aku ikut bersama sodara2 suamiku yang baru pertama kali ke sana, jadi aku tuh ceritanya jadi guide, guide yang sok tau :D

Kami jalan-jalannya pada hari senin seminggu yang lalu, 28 Maret 2011. Ada hal yang kurang mengenakkan di pagi harinya. Begini ceritanya, sodaraku bermaksud menyewa mobil untuk jalan-jalan, bertanya ke aku dimana tempat sewa mobil, ku kasih beberapa nomor telepon rental mobil yang ku lihat dari koran, dan kami pun sudah berencana akan berangkat pagi-pagi, jam 7, supaya jalan-jalannya bisa puas.
Ternyata sopirnya baru dateng ke rumah sodaraku (di Batakan) jam 8 pagi, terus harus jemput aku dulu kan di karangrejo, ehh dia nyasar, udah telpon2an padahal, dan untuk memudahkan, aku bersedia nunggu di jalan besar. sampe di jalan besar aku telpon sodaraku, menanyakan keberadaan mereka, dan apa jawabannya : Sopirnya ngambek! mereka ditinggal sama mobilnya di daerah yang mereka sendiri juga ga ngerti.
Terus sodaraku nelpon rental mobilnya lagi, dan sopirnya pun ganti, yang punya mobil yang nyetir, tapi karena dia ga terlalu ngerti jalan-jalan di Samarinda dan Tenggarong, maka di Samarinda ganti sopir lagi, pulangnya dari Tenggarong harus ke Samarinda lagi untuk ganti lagi sama yang punya mobil itu.
Dan karena berangkatnya sudah kesiangan, sekitar jam 9 dari rumahku, kami ga jadi deh mampir ke Agrowisata, disana kita bisa melihat Beruang Madu, simbol kota Balikpapan.

Tidak terlalu beda dengan kunjungan pertama ke Tenggarong, yang kami kunjungi kali ini masih yang itu2 juga, Museum Mulawarman (masih seperti dulu, belum update, masih 27 propinsi :p), Pulau Kumala (yang makin parah aja, Pura yang keren itu udah ga bisa dimasuki karena sudah longsor. tapi kali ini aku muteri pulau naik perahu), makan siang ditempat yang sama, di Tepian Pandan. tambahannya adalah pada kunjungan pertama aku (suami dan ade ku) ga tau kalo di belakang museum ada kraton kutai kertanegara, lah ga ada papan info juga sih, itu juga kami taunya karena dikasihtau sama yang jaga makam raja2 kutai kartanegara yang letaknya disamping museum.

Kalo pun ada yang berbeda adalah pada kunjungan kali ini aku sudah punya kamera DSLR :))
dan inilah oleh-oleh dari jalan-jalan kemaren:

Prasasti kerajaan Kutai Martadipura, kerajaan tertua di Indonesia
kraton Kutai Kartanegara (beda loh sama Kutai Martadipura)

Pura di Pulau Kumala yang lagi rusak

Rumah Lamin (Rumah Panjang), rumah adat suku Dayak
Jembatan yang melintasi sungai Mahakam, ada tulisannya: Gerbang Raja (Gerakan Membangun Masyarakat Sejahtera)

23 March 2011

Pada suatu Maret 2011 (Part 3) : Penanaman Pohon

Melanjutkan cerita sebelumnya (mumpung inget, karena ada fotonya hehe..)

Beruntunglah aku karena urusanku selama di Jogja bisa selesai dalam waktu 1 hari, dan di hari berikutnya punya waktu untuk jalan-jalan (walaupun juga tiap harinya mesti ngecek return ticket ke Balikpapan, tentu saja mencari harga paling hemat).

Dan inilah kunjungan pertamaku ke lereng Merapi pasca erupsi dahsyat akhir tahun lalu. Kunjunganku kali ini diajak mamaku, dalam rangka acara penanaman pohon di Merapi. Selain untuk "menghijaukan" lereng merapi yang tertutup debu dan material gunung berapi, juga untuk membantu penduduk mendapatkan penghasilan tambahan, dari hasil panen pohon tersebut.

Dari hasil pengamatanku, yang hanya sesaat, di daerah Kepuharjo, Cangkringan, memang tidak semua tertutup material gunung, ada sebagian yang masih hijau.
Dan tentu saja aku salut melihat penduduknya yang tetap semangat. sewaktu kunjungan kemaren, kehidupan penduduknya sudah mulai berjalan normal lagi, anak-anak sekolah sudah terlihat di jalan-jalan mengenakan pakaian sekolah (loh kok di jalan-jalan?? bukan di sekolah?? hayoo... adek2, pada bolos sekolah ya? :p)

18 January 2011

Borneo Life

Sabtu lalu aku jalan-jalan ke Penangkaran Buaya. Terletak di daerah Teritip, Balikpapan, sekitar 25 km dari pusat kota searah dengan pantai Manggar dan pantai Lamaru. sempat kelewatan karena papan nama di pinggir jalan itu tertulis Taman Wisata Satwa & Budaya "Borneo Life", di karcis masuknya juga tertulis seperti itu, walaupun kenyataannya karcis seharga 10ribu per orang itu untuk masuk ke penangkaran (kandang) buaya.
Kalo cuma mau liat buaya dari luar sih gratis. tapi yang membuat tempat ini menarik untuk dikunjungi adalah suasana horor masuk kandang buaya (buat yang baru pertama dan agak penakut kayak aku). kandangnya itu disekat tembok sekitar 1 meter, di atasnya pagar kawat sekitar 1 meter juga. kanan kiri kandang, tempat orang lewat cuma sekitar 1,5 meter. Untung aja buaya-buaya itu pada anteng, tapi begitu gerak dikit aja jadi ngeri hihhii.....
Buaya yang besar ditempatkan di tempat semacam rawa-rawa gitu, ada yang di rawa airnya coklat, ada juga yang hijau (lumut?), yang ini dikasi tembok 2 meter dan ada lubang buat ngintip atau naik bangku buat liat.
Ga banyak informasi yang bisa ku dapat di sana, ga ada (atau aku yang ga tau?) guide, ga ada informasi tentang buaya, cuma tulisan jenis buaya (yang ku ingat; buaya muara, buaya supit, dan buaya air tawar). Malah ada resto di dalam penangkaran itu yang menyediakan masakan olahan daging buaya (yahh sayangnya aku ga foto, karena lagi ga ada yang makan di situ).

Selain buaya, tidak banyak satwa di sana, hanya ada Gajah, Monyet, dan Luwak?? (atau apa sih? Tupai?) dengan kondisi kandang yang sangat menyedihkan, menyerupai tempat sampah :(
sampe membuatku berpikir: apakah monyet-monyet ini makanan buaya? :p

Wisata satwa (buaya) sudah, sekarang wisata budayanya apa?
Ada rumah ini, mungkin seharusnya bisa dipake buat panggung gitu ya? semacam teater terbuka gitu. tapi sekali lagi sayang banget aku ga bisa dapet informasi. Ada kantornya sih, tapi tutup, padahal aku datengnya udah hari sabtu tuh.
Liat detail ukiran tiang dan ornamen atap rumah, keren ya! Dayak banget kan? (padahal aku belum ngerti banget sih tentang dayak hehe...)

Menurutku konsep Taman Wisata ini udah bagus banget, sayangnya ga terurus gitu, dan mungkin memang kurang promosi ya? atau memang masyarakat Balikpapan lebih seneng ke Mal? Apa perlu bikin Kebon Binatang dengan konsep seperti Mal? Ga asik lagi dong, ga natural.

15 November 2010

Merapi, a Month before Eruption

These pictures were captured on 190910 from plane, flight Jogja-Balikpapan.
First Eruption (this year) on 261010, then 301010 and continued everyday 'till the worst on 051110





18 October 2010

Langit Senja

setelah cukup lama D3000 ku tidak keluar rumah, sabtu sore kemarin, aku membawanya ke pantai, melihat-lihat keindahan sunset

 17.51

17.53

18.02

 
18.03

cuaca agak berawan, tapi karena awan itulah maka pantulan cahaya di langit jadi oranye keemasan dan bertekstur.
angka-angka dibawah gambar menunjukkan waktu pemotretan yang tertera di kamera (ku tambah 1 karena waktu ngeset di Jogja (WIB), belum kuganti)

24 September 2010

Mudik Jogja

Mudik atau pulang kampung biasa dilakukan orang2 (Indonesia khususnya Jawa) pada saat hari raya Idul Fitri (atau sering disebut Lebaran).
Kampung itu bisa tempat kita lahir atau tempat asal orangtua (nenek/kakek, buyut, moyang, dkk).
Aku lahir di Jakarta, sejak 1996 merantau ke Jogja, lalu orangtuaku pindah ke Jogja tahun 2000, punya suami orang Jogja, dan sekarang KTP juga Jogja. Jadi boleh dong kalo ku bilang kampungku Jogja?? hehe... ;)

Kenapa disebut Mudik?
Mulih Udik po piye? aku ra weruh je *sok Jogja jebule ra iso* :D (yg orang Jogja silahkan tertawakan aku, gpp kok)

Jogja terletak di pulau Jawa bagian tengah, berbatasan dengan Gunung Merapi di sebelah utara dan Laut/ Samudera Hindia di sebelah selatan.

Gunung Merapi difoto dari pesawat penerbangan Jog-Bpn 19/09/10

 Pantai Kukup pagi hari 18/09/10

Note:
Jogja pada tulisan ini maksudnya propinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Kalo pengertiannya kota (madya) Jogja berarti kampungku lebih tepat adalah (kabupaten) Sleman/ (kecamatan) Godean. 

01 September 2010

Berkunjung ke Rumah Quran


Beberapa hari yang lalu ku mendapat telpon dari sebuah lembaga kursus bahasa untuk anak-anak, tempat ku pernah bekerja di sana (boleh sebut nama ga ya?? Fun Language Course) kurang lebih seperti ini:
"mba Icha (nama panggilanku di FLC), hari jumat ikut yuk, kita mau field trip ke Rumah Quran, bisa ga? nanti mba icha mendampingi anak-anak aja, mereka sudah dibagi beberapa grup"
"Oke, aku ga ada acara kok hari jumat. Jam berapa?"
"satu lima belas sampe setengah enam"
ga pake terlalu banyak tanya, aku pun oke aja. mengisi waktu luang di bulan Ramadan, ke Rumah Quran bersama anak-anak, kayaknya asik nih :)

Inilah oleh-oleh beberapa foto Rumah Quran, lokasinya agak sulit dijangkau kendaraan besar, karena belum diaspal, jadi kami turun dari bis lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Kondisi bangunannya juga dari kayu, sederhana, tapi asri di tengah hijaunya pepohonan.
Dan..... ketika waktu sholat tiba, ternyata di sana sulit air, belum ada sumur apalagi PDAM, jadi beberapa anak harus tayamum, dan beberapa anak memilih untuk segera pulang dan sholat di rumah.
memang tak banyak informasi yang ku dapat tentang Rumah Quran ini, bila dilihat sepintas memang tampaknya ditujukan untuk anak-anak kurang mampu di daerah sekitarnya (dan baru ku tau setelah pulang ke rumah, suamiku bilang daerah Kilo/Km 17 itu terkenal sebagai daerah prostitusi). Kalo memang seperti itu kondisinya, aku salut sama Bu Wilda dan teman-temannya yang berinisiatif membuat Rumah Quran ini (Ehhmm senangnya mengetahui masih banyak orang-orang baik :) :))

 

08 August 2010

Minggu Pagi di Balikpapan

ini pantai melawai, tempat ku menunggu suami pas lari pagi (aku kan kalo lari keliling 1 putaran aja terus nunggu sambil foto2), eh tapi foto yang ini suamiku yang ambil, nyobain fitur panorama.

yang ini foto orang-orang lagi olahraga (kebanyakan main sepakbola) di lapangan merdeka. di pinggiran lapangannya banyak yang jualan makanan, sarapan.
maaf, fotonya kurang bagus ya? namanya juga nyoba :p

Nah, yang ini jajananku buat dibawa pulang, secara yang jualan deket tempat parkir motor.
KOCI (KOpi CIncau), tapi kalo beli suka ditanya pake kopi atau ga (lah, namanya koci ya pake kopi kan? :P).
Liat deh tanda lalu lintas yang kuning itu, gambar sepeda, harusnya kan tempat parkir sepeda ya? tapi kok ga ada sepeda? kecuali kalo motor dikategorikan sepeda (sepeda motor, sama-sama roda dua), kalo gerobak? boleh juga lah, kan roda dua juga (gerobak Koci nih roda tiga)

20 May 2010

Museum Mulawarman

 bukan museum Mulawarman, ini kapal yang sedang berlabuh, bagus ya?! :p

Dari pulau Kumala perjalanan kami lanjutkan ke Museum Mulawarman, terletak di seberang pelabuhan, disebelah pelabuhan ada Rumah Makan namanya Tepian Pandan (kayaknya sih RM cukup terkenal dan sudah ada sejak lama). Makan dulu!! Sarapan sekalian makan siang.




Masuk Museum cukup membayar Rp 2500,- per orang. Museum nya standar museum-museum di Indonesia pada umumnya (kurang terawat :p). Masuk ruangan utama ada singgasana Raja kerajaan Kutai Kertanegara (eh maap kalo salah, ga terlalu merhatiin). Setelah itu kami melanjutkan masuk ruangan sebelah kanan, lalu ke kanan lagi, ada tangga ke bawah. Dugaan awal adalah kamar mandi, ternyata di bawah itu ada koleksi Guci-guci dari berbagai negara (kebanyakan Cina, ada juga dari Eropa, Thailand, ....).
Lebih masuk lagi ada koleksi pakaian adat dari ....... 27 Propinsi di Indonesia (waduhh!! ini museum ga update banget ya? udah tahun 2010 nih! Timor Timur udah jadi Luar Negeri! hehe...).
Parahnya lagi, masa ga ada jalan tembusnya, kalo mau keluar harus balik lagi melewati koleksi ruangan guci-guci tadi.

Lanjut....
kami ke ruangan koleksi senjata2, lalu koleksi mata uang, perhiasan, kain/ pakaian adat, dan terakhir koleksi arca/prasasti peninggalan kerajaan Kutai Lama (menurut pelajaran sejarah kerajaan pertama/tertua di Indonesia)
ini beberapa foto benda2 koleksi museum Mulawarman:



Pulau Kumala

pulau Kumala difoto dari atas jembatan Mahakam dari dalam mobil berjalan pake kamera ponsel
  
Pulau Kumala terletak di tengah sungai Mahakam. Untuk sampai ke pulau Kumala ini bisa menggunakan perahu atau Cable Car.
Karena kami dari arah Tenggarong, maka kami pun menyeberang menggunakan perahu. Bila ingin menggunakan Cable Car harus menyeberangi sungai Mahakam.
Sampai di pulau Kumala kami membayar tiket masuk Rp 10.000,- sudah termasuk mobil gandeng yang akan membawa kami keliling pulau Kumala.

Arena favorit, yang pengen ku coba adalah Sky Tower, Cable Car, dan mengunjungi Museum Mulawarman. Terenyata... eh ternyata, setelah sampai di sana, Sky Tower dan Cable Car tidak berfungsi, alasannya kurang daya listrik dan cable car masih dalam proses pengiriman dari Singapura. Dan museum Mulawarman bukan di pulau Kumala :p

Yah... agak kecewa, tapi gapapa lah (yang penting udah nyampe pulau Kumala), kami mengelilingi pulau Kumala sambil gosip2 dikit. Jadi pengelola pulau Kumala ini sedang dalam masa peralihan dari Pemda ke pihak swasta, El John (kabarnya sih yang mengelola Dufan juga). Terus gosipnya sejak bupatinya tidak lagi Bpk Syaukani (yang terlibat kasus korupsi itu loh), pulau Kumala ini jadi kurang terurus. Sayang deh... padahal pulau nya bagus, dan berpotensi banget buat tempat wisata, tapi kalo maunya aku sih wisata budaya gitu (siapa Aku?? hehe... kalo orang Tenggarong maunya pengen punya tempat wisata kayak Dufan kali ya??)

Arena yang masih bisa dikunjungi: ada tempat Resort & Spa (lupa namanya), ada Cafe (yang di atasnya ada patung Lembuswana yang membuatku berasumsi bahwa itulah museum Mulawarman) tapi bukanya malem, Reruntuhan Pura (masih bagus buat tempat foto2), toko Souvenir yang depannya ada Rumah Panjang/ Laman (rumah adat suku Dayak), dan permainan Go Kart, Trampolin, dll (khas metropolitan hehe..)

Oke, kami lanjutkan perjalanan menuju museum Mulawarman. Bye.. pulau Kumala, cepetan dirapiin ya, nanti kami berkunjung lagi deh.

17 May 2010

May (2010) I Go To Tenggarong

Sabtu, 15 Mei 2010 lalu aku jalan-jalan ke Tenggarong bersama de'Virtri dan mas Fahmi. Jam 7 pagi berangkat dari Balikpapan dengan tujuan Pulau Kumala.
Kami bertiga belum pernah ada yang ke Tenggarong. Hasil googling tempat wisata yang menarik adalah Pulau Kumala, yang terletak di tengah sungai Mahakam. Di Pulau tersebut kabarnya ada Sky Tower, dimana kita bisa melihat kota Tenggarong dari atasnya. Ada Cable Car (kereta gantung) untuk menyeberang dari kota Tenggarong ke Pulau Kumala. Ada Museum Mulawarman yang menyimpan barang-barang peninggalan kerajaan Kutai (eh tau ga kalo kerajaan Kutai itu ternyata ada 2: Kutai Lama bercorak Hindu 400M dan Kutai Kertanegara bercorak Islam, yang sampe sekarang masih ada).

Setelah bermobil (dengan mobil sewa) selama sekitar 3 jam, sampailah kami di Tenggarong, dan inilah jembatan melintasi sungai Mahakam, penghubung Tenggarong-Samarinda yang terkenal itu
 Upss.... ada yang narsis, mengalihkan perhatian, jembatannya jadi ga kaliatan ya? hehehe....
oke deh, ku upload lagi ;)

bersambung .............
cerita selanjutnya: Pulau Kumala, dan Museum Mulawarman
(maaf, mau nyuci dulu :p)

23 February 2010

Lihat ke Atas

Ya, sekali-kali boleh kok melihat ke atas, apalagi kalo kamu lagi di Pantai Segara Sari, Manggar Balikpapan 19-21 Februari 2010 kemarin. Look up to the Sky.............



Borneo's International Kite Festival : Through KITE we UNITE for CLIMATE, gitu judul acaranya. Diadakan dalam rangka memperingati HUT kota Balikpapan ke-113. Kabarnya sih diagendakan menerbangkan 6000 layang-layang, yang berarti sekaligus memecahkan rekor dunia, Gaza dengan 3710 layang-layang.
Seru........ banget kan? pengen nonton dan menjadi saksi mata kan? tapi gimana dong kalo lagi ga di Balikpapan? denger ceritaku aja ya, oke?!

Hari pertama, 19 Februari 2010: Ga nonton! yaaahh......... :(
kan hari jumat, hari kerja, mana sempet nonton.
Pembukaan, kata koran Kaltim Post: Hari Pertama Mati Angin.
James Kekenusa (ketua Tim Layang-layang Indonesia),"diperlukan angin dengan kecepatan minimal 7 knot".
Pesan dari David Gomberg (presiden Organisasi Layang-layang International,"terutama hubungannya yang erat dengan iklim dan lingkungan. Jika angin mampu menerbangkan layan-layang itu berasal dari kekuatan alam. Jadi selalu jaga kondisi lingkungan"

Hari ke-2, 20 Februari 2010
Pagi-pagi udah dateng ke Manggar, jam 9/10an gitu, kok sepi ya? katanya mulai jam 8? eh mana ujan rintik2 lagi, ditungguin sampe jam 11 ga ada tanda-tanda akan dimulai acaranya, pesertanya aja pada ga keliatan. ya sudah pulang aja deh (jadwal hari ke-2 adalah lomba menggambar di layang-layang untuk anak-anak TK dan SD)

Hari ke-3, 21 Februari 2010
Belajar dari pengalaman hari sebelumnya, dateng ke Manggar ga usah pagi2 banget, tapi juga jangan sampe melewati acara pemecahan rekor (belakangan baru tau kalo jadwal pemecahan rekor itu jam 2 siang).
Sebelum ke Manggar cari sarapan dulu di Klandasan, eh ternyata ada pawai Marching Band anak-anak TK-SMA, dalam rangka HUT kota Balikpapan juga, start dari Taman Bekapai sampe kantor walikota.
foto2 dikit:





















Lanjutkan ke Festival Layang-layang.
Sampe di Manggar, kita disuruh bayar tiket masuk Rp 10.000,- (dapet cocard/tanda peserta untuk 2 orang dan 1 layang-layang), *kemaren kok gratis??*
Sunny day! asikk............ keren2 banget layang-layangnya, dari yang bentuk Kapal, Sepeda, Ikan, Gurita, sampe layang-layang biasa tapi dengan jumlah yang banyak dalam 1 tali.
Tapi....tapi.....
kapan pemecahan rekornya? kok ga mulai2? kulit udah kebakar nih, sun burn, udah kayak kepiting rebus :)
Udah jam 5 pula. Time for going home.
 What a happy day!! ^-^ *walaupun aku ga jadi menerbangkan layang-layang, selain panas, juga malu sama anak-anak kecil he......he..........*

Laporan lengkap baca http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=53292